Selasa, 11 Oktober 2011

Day 5 Muslim Area, Ranbutti, Vinmanmek, Chao Phraya


Seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, setelah tragedi paspor saya tidak memegang uang sama sekali malam itu. Akhirnya kami memutuskan untuk check out lebih awal agar bisa mengambil uang deposit sebesar 1000 baht dari hotel.

Hari minggu, kami check out dari hotel sekitar jam 10 pagi. Agar bisa tetap berjalan - jalan dengan santai, akhirnya tas-tas kami titipkan di hotel dengan biaya 20 baht/tas.

Karena keterbatasan dana, kami membatalkan rencana mengunjungi muslim area yang ada di sekitar Petchaburi. Maka tujuan pertama kami pagi itu adalah mencari masjid yang paling dekat dengan Khaosan Road dengan harapan bisa menemukan food court halal sekitar sana.

Saya ingat, petugas hotel pernah memberitahu bahwa disekitar Khaosan terdapat masjid yang terletak di Chakarapong Road. Selain itu, berdasarkan informasi dari salah satu blogger, ada yang menyebutkan kami bisa mencari masjid di sekitar Soi Ranbutti. Akhirnya berjalan kakilah kami mencari masjid tersebut. Pertama, kami berbelok ke Soi Ranbutti.

Ternyata Soi Ranbutti ini kawasan backpacker juga, hanya saja lebih rapi dan tenang dibandingkan dengan Khaosan Road. Dsini juga terdapat banyak penginapan, cafe, warung pinggir jalan, dan money changer.

Setelah semakin masuk gang kami tidak mendapati tanda-tanda adanya masjid, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya kepada penjual di sepanjang Soi Ranbutti tadi.
Berhubung mereka tidak bisa berbahasa inggris, akhirnya terjadilah percakapan bahasa tangan, bahasa tulisan, bahasa inggris, dan bahasa Thai campur aduk jadi satu. Akhirnya mengertilah kami kalau untuk menuju masjid kami harus keluar ke jalan raya dan berbelok ke kiri. Kop khun kaa ^_^

Jika teman-teman sedang bertandang ke Khaosan Road dan hendak mencari Masjid Chakrapong, semoga petunjuk ini bisa sedikit membantu ^_^
1. Jangan lupa bawa peta
2. Dari Khaosan road, berbelok ke kanan, setelah melewati plank soi ranbutti tadi, sekitar beberapa puluh meter, teman2 akan menemui gang ini:
Ini adalah nama Gang yang didalamnya terdapat masjid Chakrapong. Gang ini berada di sebelah kiri jalan.

Ancer2nya (pake boso jowo) tepat di seberang gang ada toko-toko ini ...

Gang ini cukup kecil, sehingga cukup (hanya) untuk 2 orang saling berapasan.
Selama yang kami lihat, disini ada beberapa wanita muslimah (berkedung) berlalu lalang. Dan sepanjang gang masuk terdapat warung yang ada labelnya halal. Mungkin karena kami kepagian, warung-warung tersebut masih tutup.
 Berhubung belum sarapan, akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke "warung" india didalam gang tersebut. Si bapak & ibu pemilik warung memberi salam dan menjelaskan kalau mereka tidak menjual nasi.
Kami tetap membeli sarapan di warung tersebut sambil beristirahat sebelum menuju ke masjid. Menu kami pagi itu adalah Roti Canai, telur setengah matang, teh tawar, dan teh tarik. Masing-masing dikenakan harga 40 baht. Alhamdulillah ya ^_^


Ini adalah foto bapak pemilik warung yang sangat ramah pada kami

Selesai sarapan, kami langsung menuju masjid yang tidak jauh dari warung.
Subhanallah ... Ada masjid yang bagus dan cukup besar didalam gang sempit tadi #worship


Kami pun berkenalan dengan bapak penjaga masjid Chakraphong, nama beliau Malik Muhammad berasal dari Islamabad. Beliau sangat ramah dan mempersilahkan masuk masjid, tetapi kami menolak karena sedang berhalangan :'( Hix
Selama berada di masjid tersebut, kami ditemani Bpk Malik Muhammad ini. Beliau bercerita tentang sejarah masjid yang akhirnya kami tahu kalau usianya sudah 250 tahun. Subhanallah ...

Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Museum Nasional yang ada di dekat Phra Arthit Pier. Ternyata untuk masuk museum tersebut kami harus membayar 200 baht, akhirnya kami mengurungkan niat karena kami hanya memegang 500 baht.

Akhirnya kami kembali keChakrapong Road untuk mencari tuk-tuk menuju Vimanmek. Di tengah jalan, kami menjumpai tuk-tuk yang diparkir pinggir jalan dan ditunggui mas2 cakep. Ternyata telepati saya dan mba endah sedang nyambung, jadilah kami memanggil mas2 cakep tadi, memesan tuk-tuknya. Kapan lagi naik tuk-tuk yang sopirnya cakep bangeettt *eh?*
Setelah komunikasi yang cukup "sulit", ngeh lah kami kalau mas tadi bukan sopir tuk-tuk, dan dia menyarankan kalau kami mau naik tuk-tuk sebaiknya mencari di ujung jalan *cepet2 melipir* *malyyuuuu*

Dengan harga tawar tuk-tuk, akhirnya kami menuju ke vimanmek .... Belakangan baru kami tahu, kalau dari Khaosan Road menuju ke vimanmek bisa menggunakan bus Umum No. 7 yang berhenti persis di depan gerbang Vimanmek. 
Untuk masuk ke Vimanmek, wisatawan dikenakan biaya 150 baht, berhubung kami sudah memegang tiket dari Grand Palace, maka kami hanya cukup meminta stempel. 
Ada peraturan yang sama antara Vimanmek dan Grand Palace, wisatawan yang berkunjung harus berpakaian sopan. Merasa sudah sopan kami cuek2 saja masuk. Ternyata untuk wisatawati seperti kami, harus mengenakan rok/kain panjang. Akhirnya kami membayar 40 baht untuk sepotong kain yang akan kami gnakan selama menikmati keindahan vimanmek dan sekaligus bisa dibawa pulang.

Selesai memutari Vimanmek, kami berhenti di halte seberang Vimanmek untuk mencegat Bus No.7 menuju khaosan road. 
Sesampai di Khaosan Road, kami memutuskan untuk memesan Bus Bandara sebesar 100 baht. Ternyata kami baru akan diantar ke Bandara pada pukul 4 sore. Bingung mau menghabiskan waktu 4 jam dimana, sedangkan kami pun sudah check out dari hotel, akhirnya kami beristirahat di Sanam Luang Park yang didekat Grand Pallace. 

Rasanya mubadzir kami sudah jauh-jauh ke Bangkok dan masih ada waktu 4 jam hanya dipakai duduk-duduk saja. Merasa sudah cukup istirahatnya, kami melanjutkan langkah kearah selatan taman. Ternyata ada banyak tempat yang bisa dilihat dan dikunjungi ^_^
Diantaranya : Thammasat University (berhubung sedang ada acara, sehingga saya hanya foto2 didepan plang namanya), Museum Nasional Bangkok (yang lagi-lagi tidak masuk), dan King Chulalongkorn Memorial Exhibition Building. 
 Di depan King Chulalongkorn Memorial Exhibition Building ada bapak & ibu yang (juga) ramah, mempersilahkan kami masuk. Awalnya kami bingung, tapi setelah melihat plang di depan dan ada tulisan FREE ADMISSION tanpa ragu kami pun mantap melangkahkan kaki kedalam *halah*.
Ternyata bangunan ini sangat kereeeen. Semacam museum yang didalamnya menceritakan mengenai King Chulalongkorn mulai masa kanak-kanak hingga dewasa serta perubahan-perubahan yang sudah dilakukannya. 

Bangunan museum ini sangat bersih dan sejuk. Meski ada beberapa bagian yang pencahayaannya kurang, tapi tidak masalah. Dan didalamnya juga terdapat sstudio mini (berdinding kaca) yang memutar film mengenai King Chulalongkorn ini.
Berikut ini bagian dalam King Chulalongkorn Memorial Exhibition Building :

Kamar mandinya pun bersih sekali ^_^

Selesai mengelilingi King Chulalongkorn Memorial Exhibition Building kami memutuskan untuk pulang. Namun untuk berjalan kaki jaraknya terlalu jauh dan kami juga sudah lelah, mau naik tuk-tuk tapi urung, mau naik bus tapi tidak tahu bus nomor berapa, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke arah Tha Thien Pier berencana naik perahu menuju phra arthiet pier yang dekat dengan khaosan road. Akhirnya kami menyusuri Chao Phraya kembali dengan waktu yang lebih lama daripada sebelumnya. Yaayy ^_^

Setelah turun di Phra Arthiet Pier, untuk mengejar waktu kami naik tuk-tuk ke Khaosan Road dengan membayar 40 baht.

Sesampai di Khoasan kami langsung mencari makan lalu menuju ke hotel mengambil tas yang kami titipkan. Tepat pukul 4 kurang 15 kami sudah berkumpul dengan beberapa backpacker lain untuk menuju ke bandara.

Setelah pengiritan seharian *tsaah* saya berhasil menyisihkan 100 baht sampai di bandara, hihiihihi ...

Kami take off dari bandara Swarnabhumi pukul 19.35 dengan keadaan cuaca yang mendung, hiixx, jadinya sepanjang perjalanan dag dig dur dueerrr karena pesawat berkali2 bergetar (ketahuan belum pernah naik pesawat, hihihihi)
Alamdulillah, kami mendarat di Bandara Juanda pada tengah malam dan langsung bergegas ke terminal Bungurasih untuk melanjutkan perjalanan ke Tuban. 

Day 4 Chatuchak Weekend Market


Target utama untuk ke Museum Lilin Madame Tussauds dan wisata kuil sudah terpenuhi, dan di hari ke-4 kami memutuskan untuk menunaikan "ibadah" sebagai wanita, yaitu berbelanjaaaaaa *halah* ...

Semenjak dari Indonesia, kami memang sudah menargetkan hari Sabtu untuk mengunjungi Chatuchak Weekend Market yang memang hanya dibuka hari Sabtu dan Minggu. 

Chatuchak weekend market merupakan pasar murah yang ada di Bangkok. Pasar ini sangat luas dan terdiri dari kurang lebih 15.000 kios yang dikelompokkan sesuai dengan produknya, yaitu barang antik, kerajinan, pakaian dan asesoris, dekorasi rumah, buku, makanan minuman, tanaman dan binatang. Untuk lebih memudahkan kita dalam berbelanja, sebaiknya kita ke pusat informasi untuk mengambil peta pasar chatuchak. Ketika berbelanja, jangan khawatir kehabisan baht (asalkan masih menyimpan US$), karena di sekitar pasar Chatuchak ini banyak ditemui money changer. 

Untuk mencapai Chatuchak weekend market ini dari Khaosan Road, ada beberapa pilihan moda transportasi :
1. Taxi (sekitar 100 baht)
2. Bus Umum (kami tidak menggunakan bus, namun berdasarkan informasi, kita bisa menggunakan bus No. 4 dengan membayar 17 baht)
3. Tuk-tuk (kita bisa menawar sampai 100 baht)
4. MRT dari Hua Lamphong Station.

Kami (sebenernya sih saya yang lebih ingin) menggunakan MRT. Walaupun menggunakan bus atau bahkan taxi sekalipun kami akan memperoleh harga yang lebih murah, tetapi karena ingin (membeli pengalaman) mencoba MRT di Bangkok akhirnya kami memutuskan untuk naik MRT saja menuju ke Weekend Market Chatuchak. 

Dari Khaoasan Road kami naik tuk-tuk ke Hua Lamphong station dengan membayar 100 baht (dibagi berdua). Sampai di Hua Lamphong kami langsung menuju ke stasiun bawah tanahnya (catatan: dsini ada dua stasiun). Kami membeli tiket MRT dengan biaya sebesar 40 baht. Tiket MRT ini berupa koin logam hitam. 
Dasar anak dari desa, saya kesenengan bisa naik MRT ^_^

 Setelah beberapa menit perjalanan, kami turun di Kamphaeng Phet Station yang berada tepat disamping weekend market chatuchak. Pintu keluar Kamphaeng Phet station ini jadi satu dengan mall sehingga sebelum berpanas-panas di chatuchak kita bisa ngadem dulu di mall ini *kurang kerjaan, hehhee*





Berada di stasiun ini kita tidak akan bingung, karena stasiun ini memiliki petunjuk arah yang jelas (walaupun saya juga sempat bertanya kepada satpam yang sedang bertugas)




Sebelum keluar dari stasiun saya sempatkan dulu berfoto dibawah 4 jam ini ^_^



Begitu sampai di Chatuchak, pasar sudah mulai ramai. 
Dari informasi yang kami dapat, sebaiknya berhati-hati dengan dompet dan uang yang ada di tas karena disini pun banyak pencopet. Jadi agar lebih tenang dalam berbelanja, dokumen2 penting dan beberapa CC serta KTP saya masukkan kedalam kantong kaos. 

 Agar tidak khilaf (hihihihi) dari hotel saya sudah mempersiapkan catatan apa saja yang akan dibeli berikut jumlahnya serta dana maksimal yang harus dikeluarkan. 

Seperti di pasar-pasar di Indonesia, di Chatuchak pun kita boleh menawar sampai harga terendah. Saya yang tidak pandai menawar ini sudah mempersiapkan diri dengan browsing-browsing rentang harga tawar agak tidak terlalu tinggi memberikan harga tawar. Namun ada beberapa kios yang memberikan harga pas untuk barang yang dijualnya dengan catatan kita membeli lebih dari 1 item. 

Berbelanja disini berasa seperti berbelanja di Indonesia. Kenapa? karena sambil berbelanja, kami mendengar lagunya Joshua - diobok2, hihihihihiiii.

Berdasarkan pengalaman kemaren, harga barang di Chatuchak weekend market lebih murah daripada di MBK. Jadi sebisa mungkin, jangan melewatkan pengalaman berbelanja di Chatuchak.

Untuk info rentang harga barang (pengalaman menawar kami) :
1. Kaos
Untuk kaos, kita bisa memilih produk kaos dari rentang harga 50 baht sampai 250 baht, tergantung bahan & desain serta distro yang menjual. Untuk kaos bertuliskan "I Lova Thailand" kami berhasil mendapat harga 90 baht/item.
Untuk kaos anak-anak, kami mendapat harga 70 baht/item dengan bahan kaos yang adem & desain lucu.
2. Tas
Tas yang dijual disini juga beragam. Karena kami dari Indonesia, maka kami mencari tas yang khas Thailand dari kain kanvas. Untuk tas yang kecil kami berhasil mendapatkan harga 50 baht, dan untuk yang ukuran sedang kami berhasil menawar hingga harga 80 baht/tas. Sedangkan untuk yang semi resmi, saya berhasil mendapat harga 150 baht.
3. Dompet 
Dompet lucu yang berhiaskan gambar gajah juga bisa kita dapatkan disini. Desain dan ukurannya juga beragam. Standar harga yang ditawarkan yaitu 100 baht untuk 4 dompet lucu (1 set). Dan belakangan sebelum pulang ke Khaosan, saya menemukan toko yang menjual dompet ini secara eceran hanya 10 baht/item *nangiiiiisssss* ...
Jadi menurut perhitungan saya, kita masih bisa menawar dompet2 tersebut sampai 50 baht/set.
4. Gelang
Bagi pecinta aksesoris gelang, cincin, dan kalung, pasti akan senang disini karena banyak kios yang menyediakan berbagai jenis aksesoris dengan harga terjangkau dan bisa ditawar pula ^_^ Rentang harga tergantung bahan dan desain, tapi disini kita bisa memperoleh gelang lucu hanya dengan 100 baht/ 3 item.
5. Gantungan Kunci
Sepertinya gantungan kunci tidak boleh terlewatkan oleh kita, minimal bisa dipakai untuk buah tangan. Rentang harga tawar masing-masing kios bervariasi tetapi kita bisa menawar sampai 100 baht / set (1 set = 6 gantungan kunci)
6. Makanan
Kami agak kesulitan mencari makanan ringan ataupun manisan untuk dijadikan buah tangan. Tetapi kami menjumpai beberapa kios yang menjual manisan asam seharga 150 baht/bungkus. Namun karena cukup berat, takut tidak dapat jatah di bagasi, akhirnya kami mengurungkan niat membeli manisan ini. 


Tidak semua buah tangan saya beli di Chatuchak, ada sebagian yang saya dapat di MBK dan sepanjang Khaosan Road yang harganya (maaf) saya rahasiakan ^_* hehheheeee

Setelah lelah berbelanja, kami istirahat sebentar sambil menikmati es krim kelapa ini
Hanya dengan 30 baht kita bisa menikmati es krim kelapa muda yang disajikan dengan wadah batok kelapa plus serutan kelapa muda & mutiara merah. Syyeeddhhaaapppp ....

Disini saya berhasil menahan diri untuk tidak khilaf, dan pulang dengan masih menyimpan 700 baht *yaayyyy*

Karena masih ada beberapa item yang tidak berhasil kami temukan di Chatuchak, akhirnya kami memutuskan pulang lebih awal karena akan melanjutkan perjalanan kembali ke MBK.

Dengan belanjaan yang 1 tas penuh, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Khaosan naik tuk-tuk saja dengan membayar 100 baht.

Setelah beristirahat di hotel, kami langsung menuju MBK tentunya dengan menggunakan bus. Sesampai di MBK, kami langsung mencari food court di lantai 6 karena sepanjang siang belum makan, hix ...
Selesai makan, kami berkeliling MBK dan menuju ke lantai dasar untuk berbelanja manisan & makanan untuk buah tangan.

Disinilah tragedi paspor terjadi!!

Saat tengah berbelanja makanan dan hendak membayar, saya baru sadar kalau sepaket dokumen (paspor, CC, ATM, KTP,bukti deposit hotel) tertinggal di kamar hotel! Tentu saja saya sangat panik karena hotel pun tidak menjamin jika ada barang penting yang hilang didalam kamar hotel. 

Karena panik, berbelanja pun jadi tidak konsetrasi. Komunikasi dengan mba Endah pun agak tidak nyambung sehingga belakangan baru sadar kalau kami kelebihan belanjaan *tepok jidat*
Setelah mengambil ini dan itu di kasir, akhirnya kami membayar dan cepat-cepat menuju keluar MBK. Mb Endah tidak banyak berbicara melihat saya yang super panik malam itu.

Tidak sabar menunggu bus, demi alasan keselamatan dokumen penting tadi, akhirnya kami memutuskan pulang naik tuk-tuk dengan membayar 150 baht. Sangking paniknya saya sampai lupa menawar harga ...

Sampai di hotel, saya menemukan sepaket dokumen tersebut tergeletak begitu saja diatas kasur. Alhamdulillaaaaahh ...

Lega karena dokumen tersebut aman, akhirnya saya kembali konsentrasi membahas hasil belanjaan di MBK tadi.

Setelah ditotal jenderal, ternyata sepanjang khilaf tadi saya belanja makanannya tidak pakai aturan dan bahkan mb Endah pun jadi kelebihan belanjaan >.< Dan uang hasil ngirit di Chatuchak langsung tandas!!

Saya pun bingung, dan memutuskan untuk tarik tunai di ATM terdekat saja ...
Mba Endah sangat tidak setuju kalau saya menarik tunai dsana ...
Terjadilah "debat" seru antara kami malam itu. Saya ngeyel ingin menarik tunai, dan mba Endah sibuk melarang tarik tunai dengan alasan yang sangat masuk akal. 
Akhirnya saya menyerah untuk tidak menarik tunai ... 

Alhamdulillah teman seperjalanan saya ini sangat tegas, jadi bisa meluruskan saya yang bengkok hihihihihii

"Sahabat yang baik adalah orang yang selalu berkata benar, bukan yang selalu membenarkan"

Terimakasih yaaa mba Endah *hugs*

Beberapa jam kemudian kami sudah bisa menertawakan debat kusir kami serta kelucuan saya sepulang dari MBK tadi, hohohohohohooo 


Untuk rincian pengeluaran selama hari ke-4 sebagai berikut:
Sarapan : 39 baht (ketahuan menu sarapan saya selalu sama setiap harinya, hihihihiii)
Tuk-tuk menuju ke Hua Lamphong : 50 baht
MRT ke Kamphaeng Phet : 40 baht
Es krim kelapa muda : 30 baht
Air mineral : 10 baht
Tuk-tuk ke Khaosan Road : 50 baht
Bus 79 : 13 baht
Tuk-tuk dr MBK : 75 baht
Belanjaan : rahasia ^_*

Tips untuk berbelanja di Chatuchak Weekend Market :
1. Datanglah lebih pagi agar tidak terlalu berdesakan
2. Menggunakan busana yang nyaman (menyerap keringat) karena disana cukup panas
3. Sebisa mungkin gunakan alas kaki yang nyaman untuk berjalan memutari Chatuchak yang sangat luas itu
4. Jangan lupa mengambil peta di bagian informasi untuk mempermudah belanja kita
5. Bawalah tas kosong agar mudah membawa semua belanjaan kita 
6. Membawa uang tunai (ya iyaa lah)
7. Mengamankan dokumen (kalau saya, menaruh dokumen di kaus yang berkantung)
8. Menawar dengan senyum, dan menawar harganya jangan terlalu sadis ^_^

Day 3 Grand Pallace - Wat Po - Wat Arun


Kegiatan hari ke-3 kami di bangkok adalah wisata kuil. Destinasi utama kami ada 3, yaitu Grand Pallace, Wat Pho, dan Wat Arun sekaligus mencoba alat transportasi khas disana Tuk-tuk dan naik perahu di sungai Chao Phraya.

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari beberapa traveller blogger dan peta Kota Bangkok, ternyata letak ketiga kuil tersebut tidak jauh dari Khaosan Road, sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju ke Grand Pallace yang merupakan tujuan pertama kami. 

Sebelum berangkat ke Grand Pallace kami mencari food court halal di sekitar Khaosan Road hingga ke Rambutti Road. Ternyata tidak ada sehingga kami memutar mencari 7-11 terdekat. Cukup jauh berjalan, kami tidak menemukan rumah makan halal ataupun 7-11, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke khaosan road *fyyuuhh*

Selesai sarapan kami berjalan kaki melalui Ratchadamnoen Klang Road dan Sanam Luang park menuju ke Grand Pallace. Cuaca cukup terik mengingat kami agak kesiangan berangkat dari Khaosan. Disinilah kacamata hitam kami mulai beraksi *tsaahh*
Sebenarnya kami tidak hanya berdua berangkat ke Grand Pallace, kami berbarengan dengan 3 orang backpacker lainnya (ntah dari negara mana) yang juga akan menuju kesana. Ternyata mereka dan kami tidak jauh berbeda. Tiap nemu spot foto langsung "cekrek" hehhehehe ...  

Saat berangkat kami berjalan di trotoar seberang Sanam Luang park. Ternyata trotoar disini lebih teduh dan banyak merpatinya. Konon sih kalau lewat jalan ini, kita bakalan dikejar ibu-ibu yang menjual makanan untk merpati-merpati itu. Alhamdulillah ya, perjalanan kami lancar tanpa dihadang oleh ibu-ibu tersebut. Mungkin karena melihat penampilan kami yang sepertinya tidak mampu membeli jagung-jagung mereka hihihihihii *worship*

Sebelum berbelok ke Grand Pallace, kami memastikan diri dengan bertanya kepada tentara yang kebetulan sedang bertugas di kantor dekat Grand Pallace. Dan ternyata benar, kami sudah sangat dekat dengan grand pallace ^_^

Begitu menyeberang ke grand pallace, sampailah kami di pintu pertama yang bertuliskan "FOR TOURIST NO ENTRY". Akhirnya kami menuju ke pintu selanjutnya yang kebetulan sudah banyak wisatawan berdiri didepannya. 

Ada syarat dan ketentuan bagi wisatawan yang hendak ke Grand Pallace, diantaranya tidak boleh menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan. Jika sudah terlanjur salah kostum, wisatawan bisa menyewa kain pajang untuk dipakai selama berjalan - jalan didalam Grand Pallace. Saya yang terlanjur bersendal jepit juga jadi was-was, akhirnya mempersiapkan diri dengan menggunakan kaos kaki dari hotel.

Untuk masuk ke Grand Pallace, wisatawan dikenakan biaya sebesar 400 baht dan untuk warga Thailand tiket masuknya gratis *Enak kan?*. Walaupun biaya masuknya agak mahal, tapi tiket 400 baht tersebut sudah satu paket dengan tiket ke Vimanmek Mansion Museum, Arts of The Kingdom Exhibition, dan satu lagi lupa *tiket keselip*. Mungkin ini salah satu kebijakan dari pemerintah Thailand untuk memperkenalkan obyek wisata lainnya yang dipasangkan dengan obyek wisata utama. 

Didalam Grand Pallace terdapat 34 bangunan. Karena sebagian besar menggunakan tulisan Thai, maka wisatawan diberikan brosur yang berisi peta dan keterangan dalam Bahasa Inggris.

Gambar diatas adalah 3 dari 34 bangunan di Grand Pallace : Phra Siratana Chedi, Phra Mondop, dan Prasat Phra Dhepbidorn (The Royal Pantheon).

Selesai mengelilingi Grand Pallace, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Wat Pho yang berada tepat di belakang Grand Pallace.  

Untuk masuk ke Wat Pho, wisatawan dikenakan biaya 50 baht, tapi pengawasan disini tidak begitu ketat. Jadi kalau ada wisatawan "nakal" mendadak menyelinap ke dalam, pasti tidak ketahuan hihihihii. Tapi berhubung kami wisaawan yang baik *halah*, kami teteup bayar 50 baht donk ^_*

Menurut cerita & keterangan dari mba Endah, Thai massage berasal dari kuil ini. Dan didalam kuil ini juga terdapat Budha (emas) tidur. Untunglah tidak ada peringatan dilarang berfoto didalam kuil. Makanya disempat-sempatkan narsis disini :p

Tidak disangka, ketika berkeliling kuil ini kami bertemu dengan rombongan dari Gresik, 4 orang. Karena bertemu dengan sesama orang Jowo, ya berbahasa Jowo-lah kami disana *Jauh2 ke Bangkok, teteup saja ngomongnya kromo inggil* ...
Walaupun baru bertemu, rasanya sudah langsung akrab dengan mereka, saudara setanah air sih. Dari bincang-bincang singkat akhirnya saya tahu bahwa mereka sedang ada tugas untuk mengikuti pameran dari kantor. Keren ya? kira-kira mereka berkantor dimana? dinas pariwisata atau disperindag? Namanya siapa saja lupa, belum add friend di Fb sih *dibahas*

 Setelah dari Wat Pho kami melanjutkan perjalanan ke Wat Arun yang berlokasi persis di seberang Sungai Chao Phraya. Dari Wat Pho kami berjalan kaki menuju ke dermaga Tha Tien. Untuk menyeberang kesana, kami menggunakan jasa perahu dengan membayar (hanya) 3 baht atau senilai Rp 900,- murah ya?



  Untuk masuk ke Wat Arun wisatawan dikenakan biaya 50 baht. Kompleks kuilnya tidak begitu besar namun daya tariknya luar biasa. Apalagi ketika kita berhasil naik ke tingkat tertinggi di salah satu bangunan kuil (yang tangganya hampir 80%), kita akan dapat melihat pemandangan kota bangkok yang bersandingan dengan sungai Chao Phraya. 




Ketika turun dari tingkat atas, saya dan beberapa turis dari Jepang ditertawakan mbak-mbak yang sudah lebih dulu duduk dibawah. "Wooooo, gak sopan hohohohoo"
Setelah sampai dibawah, iseng-iseng saya duduk disamping mbak tadi dan mengajak ngobrol. Ternyata dia dari Perancis. Ketika saya tanya kenapa dia tertawa, dia bilang karena melihat ekspresi & gerak tubuh kami ketika turun sambil gelantungan di tiang samping tangga. Ternyata eh ternyata mbak tadi malahan belum naik karena sudah ketakutan sebelum "memanjat" hihihihihiihi ...

Selesai dengan Wat Arun kami kembali menyeberangi Chao Phraya dan membayar 3 baht *crriiing*

 Karena sudah terlalu lelah setelah seharian berjalan kaki dan memanjat kuil di Wat Arun, kami memutuskan pulang ke Khaosan road dengan naik tuk-tuk. Mencoba bertanya biaya tuk-tuk didepan Wat Pho, ternyata mereka memasang harga 150 baht!! Mahal sekali untuk jarak yang sangat dekat ... Akhirnya kami berjalan agak jauh dari Wat Pho dengan niatan kalau tidak dapat tuk-tuk dengan harga terjangkau lebih baik jalan kaki (lagi). Dan akhirnya diujung jalan tersebut kami berhasil menawar harga 60 baht untuk ke Khaosan Road. Akhirnyaaaaaa naik tuk-tuk ^_^

Sesampai di hotel, mba Endah langsung beristirahat di kamar, sedangkan saya saking capeknya malah tidak bisa tidur, akhirnya turun ke lobi dan online *teteup*
Setelah sejam lebih online, mba Endah turun dan mengajak ke Khaosan Road untuk mencoba Thai Massage supaya otot-otot yang lelah tadi bisa kembali relaks. Di sepanjang Khaosan road terdapat beberapa tempat yang menyediakan jasa massage. Berdasarkan perbandingan harga, akhirnya kami memilih Charlie Salon Massage & Spa untuk foot massage dan merekuest pemijat wanita. Kami diantar ke lantai atas yang agak remang namun sangat nyaman. 
Untuk foot massage ini kami membayar sebesar 100 baht untuk 30 menit. Lumayan lah setelah pijat jalannya tidak terpincang-pincang lagi ^_^

Keluar dari Charlie salon massage & spa, kami lalu berkeliling mencari makanan halal. Target siang itu adalah mencoba Indian Food. 
Bingung memilih menu yang tidak ada gambarnya tersebut, akhirnya kami berdua memilih Nasi biryani (eh bener gak sih ini namanya?) ... Ternyata lidah & hidung saya sangat tidak cocok dengan makanan ini. Salut buat mba Endah yang bisa tandas menghabiskan menu kali ini ^_^

Selesai makan, akhirnya kami kembali beristirahat di hotel dan malamnya menjelajah Khaosan road (lagi & lagi)


Rincian pengeluaran hari ke-3 sebagai berikut:
Sarapan : 39 baht
Tiket Grand Pallace : 400 baht
Jus Rosella : 10 baht
Tiket Wal Pho : 50 baht
Tiket Wat Arun : 50 baht
Tiket perahu PP : 6 baht
tuk-tuk : 30 baht (harga 60 baht dibagi berdua)
brownies : 30 baht
indian food : 210 baht
minum : 14 baht
Foot Massage : 100 baht

Tips : Jika ingin naik tuk-tuk, berjalanlah agak jauh dari obyek wisata agar bisa memperoleh harga tawar separuh dari tuk-tuk didepan obyek wisata. 

Day 3 Grand Pallace - Wat Po - Wat Arun


Kegiatan hari ke-3 kami di bangkok adalah wisata kuil. Destinasi utama kami ada 3, yaitu Grand Pallace, Wat Pho, dan Wat Arun sekaligus mencoba alat transportasi khas disana Tuk-tuk dan naik perahu di sungai Chao Phraya.

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari beberapa traveller blogger dan peta Kota Bangkok, ternyata letak ketiga kuil tersebut tidak jauh dari Khaosan Road, sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju ke Grand Pallace yang merupakan tujuan pertama kami. 

Sebelum berangkat ke Grand Pallace kami mencari food court halal di sekitar Khaosan Road hingga ke Rambutti Road. Ternyata tidak ada sehingga kami memutar mencari 7-11 terdekat. Cukup jauh berjalan, kami tidak menemukan rumah makan halal ataupun 7-11, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke khaosan road *fyyuuhh*

Selesai sarapan kami berjalan kaki melalui Ratchadamnoen Klang Road dan Sanam Luang park menuju ke Grand Pallace. Cuaca cukup terik mengingat kami agak kesiangan berangkat dari Khaosan. Disinilah kacamata hitam kami mulai beraksi *tsaahh*
Sebenarnya kami tidak hanya berdua berangkat ke Grand Pallace, kami berbarengan dengan 3 orang backpacker lainnya (ntah dari negara mana) yang juga akan menuju kesana. Ternyata mereka dan kami tidak jauh berbeda. Tiap nemu spot foto langsung "cekrek" hehhehehe ...  

Saat berangkat kami berjalan di trotoar seberang Sanam Luang park. Ternyata trotoar disini lebih teduh dan banyak merpatinya. Konon sih kalau lewat jalan ini, kita bakalan dikejar ibu-ibu yang menjual makanan untk merpati-merpati itu. Alhamdulillah ya, perjalanan kami lancar tanpa dihadang oleh ibu-ibu tersebut. Mungkin karena melihat penampilan kami yang sepertinya tidak mampu membeli jagung-jagung mereka hihihihihii *worship*

Sebelum berbelok ke Grand Pallace, kami memastikan diri dengan bertanya kepada tentara yang kebetulan sedang bertugas di kantor dekat Grand Pallace. Dan ternyata benar, kami sudah sangat dekat dengan grand pallace ^_^

Begitu menyeberang ke grand pallace, sampailah kami di pintu pertama yang bertuliskan "FOR TOURIST NO ENTRY". Akhirnya kami menuju ke pintu selanjutnya yang kebetulan sudah banyak wisatawan berdiri didepannya. 

Ada syarat dan ketentuan bagi wisatawan yang hendak ke Grand Pallace, diantaranya tidak boleh menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan. Jika sudah terlanjur salah kostum, wisatawan bisa menyewa kain pajang untuk dipakai selama berjalan - jalan didalam Grand Pallace. Saya yang terlanjur bersendal jepit juga jadi was-was, akhirnya mempersiapkan diri dengan menggunakan kaos kaki dari hotel.

Untuk masuk ke Grand Pallace, wisatawan dikenakan biaya sebesar 400 baht dan untuk warga Thailand tiket masuknya gratis *Enak kan?*. Walaupun biaya masuknya agak mahal, tapi tiket 400 baht tersebut sudah satu paket dengan tiket ke Vimanmek Mansion Museum, Arts of The Kingdom Exhibition, dan satu lagi lupa *tiket keselip*. Mungkin ini salah satu kebijakan dari pemerintah Thailand untuk memperkenalkan obyek wisata lainnya yang dipasangkan dengan obyek wisata utama. 

Didalam Grand Pallace terdapat 34 bangunan. Karena sebagian besar menggunakan tulisan Thai, maka wisatawan diberikan brosur yang berisi peta dan keterangan dalam Bahasa Inggris.

Gambar diatas adalah 3 dari 34 bangunan di Grand Pallace : Phra Siratana Chedi, Phra Mondop, dan Prasat Phra Dhepbidorn (The Royal Pantheon).

Selesai mengelilingi Grand Pallace, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Wat Pho yang berada tepat di belakang Grand Pallace.  

Untuk masuk ke Wat Pho, wisatawan dikenakan biaya 50 baht, tapi pengawasan disini tidak begitu ketat. Jadi kalau ada wisatawan "nakal" mendadak menyelinap ke dalam, pasti tidak ketahuan hihihihii. Tapi berhubung kami wisaawan yang baik *halah*, kami teteup bayar 50 baht donk ^_*

Menurut cerita & keterangan dari mba Endah, Thai massage berasal dari kuil ini. Dan didalam kuil ini juga terdapat Budha (emas) tidur. Untunglah tidak ada peringatan dilarang berfoto didalam kuil. Makanya disempat-sempatkan narsis disini :p

Tidak disangka, ketika berkeliling kuil ini kami bertemu dengan rombongan dari Gresik, 4 orang. Karena bertemu dengan sesama orang Jowo, ya berbahasa Jowo-lah kami disana *Jauh2 ke Bangkok, teteup saja ngomongnya kromo inggil* ...
Walaupun baru bertemu, rasanya sudah langsung akrab dengan mereka, saudara setanah air sih. Dari bincang-bincang singkat akhirnya saya tahu bahwa mereka sedang ada tugas untuk mengikuti pameran dari kantor. Keren ya? kira-kira mereka berkantor dimana? dinas pariwisata atau disperindag? Namanya siapa saja lupa, belum add friend di Fb sih *dibahas*

 Setelah dari Wat Pho kami melanjutkan perjalanan ke Wat Arun yang berlokasi persis di seberang Sungai Chao Phraya. Dari Wat Pho kami berjalan kaki menuju ke dermaga Tha Tien. Untuk menyeberang kesana, kami menggunakan jasa perahu dengan membayar (hanya) 3 baht atau senilai Rp 900,- murah ya?



  Untuk masuk ke Wat Arun wisatawan dikenakan biaya 50 baht. Kompleks kuilnya tidak begitu besar namun daya tariknya luar biasa. Apalagi ketika kita berhasil naik ke tingkat tertinggi di salah satu bangunan kuil (yang tangganya hampir 80%), kita akan dapat melihat pemandangan kota bangkok yang bersandingan dengan sungai Chao Phraya. 




Ketika turun dari tingkat atas, saya dan beberapa turis dari Jepang ditertawakan mbak-mbak yang sudah lebih dulu duduk dibawah. "Wooooo, gak sopan hohohohoo"
Setelah sampai dibawah, iseng-iseng saya duduk disamping mbak tadi dan mengajak ngobrol. Ternyata dia dari Perancis. Ketika saya tanya kenapa dia tertawa, dia bilang karena melihat ekspresi & gerak tubuh kami ketika turun sambil gelantungan di tiang samping tangga. Ternyata eh ternyata mbak tadi malahan belum naik karena sudah ketakutan sebelum "memanjat" hihihihihiihi ...

Selesai dengan Wat Arun kami kembali menyeberangi Chao Phraya dan membayar 3 baht *crriiing*

 Karena sudah terlalu lelah setelah seharian berjalan kaki dan memanjat kuil di Wat Arun, kami memutuskan pulang ke Khaosan road dengan naik tuk-tuk. Mencoba bertanya biaya tuk-tuk didepan Wat Pho, ternyata mereka memasang harga 150 baht!! Mahal sekali untuk jarak yang sangat dekat ... Akhirnya kami berjalan agak jauh dari Wat Pho dengan niatan kalau tidak dapat tuk-tuk dengan harga terjangkau lebih baik jalan kaki (lagi). Dan akhirnya diujung jalan tersebut kami berhasil menawar harga 60 baht untuk ke Khaosan Road. Akhirnyaaaaaa naik tuk-tuk ^_^

Sesampai di hotel, mba Endah langsung beristirahat di kamar, sedangkan saya saking capeknya malah tidak bisa tidur, akhirnya turun ke lobi dan online *teteup*
Setelah sejam lebih online, mba Endah turun dan mengajak ke Khaosan Road untuk mencoba Thai Massage supaya otot-otot yang lelah tadi bisa kembali relaks. Di sepanjang Khaosan road terdapat beberapa tempat yang menyediakan jasa massage. Berdasarkan perbandingan harga, akhirnya kami memilih Charlie Salon Massage & Spa untuk foot massage dan merekuest pemijat wanita. Kami diantar ke lantai atas yang agak remang namun sangat nyaman. 
Untuk foot massage ini kami membayar sebesar 100 baht untuk 30 menit. Lumayan lah setelah pijat jalannya tidak terpincang-pincang lagi ^_^

Keluar dari Charlie salon massage & spa, kami lalu berkeliling mencari makanan halal. Target siang itu adalah mencoba Indian Food. 
Bingung memilih menu yang tidak ada gambarnya tersebut, akhirnya kami berdua memilih Nasi biryani (eh bener gak sih ini namanya?) ... Ternyata lidah & hidung saya sangat tidak cocok dengan makanan ini. Salut buat mba Endah yang bisa tandas menghabiskan menu kali ini ^_^

Selesai makan, akhirnya kami kembali beristirahat di hotel dan malamnya menjelajah Khaosan road (lagi & lagi)


Rincian pengeluaran hari ke-3 sebagai berikut:
Sarapan : 39 baht
Tiket Grand Pallace : 400 baht
Jus Rosella : 10 baht
Tiket Wal Pho : 50 baht
Tiket Wat Arun : 50 baht
Tiket perahu PP : 6 baht
tuk-tuk : 30 baht (harga 60 baht dibagi berdua)
brownies : 30 baht
indian food : 210 baht
minum : 14 baht
Foot Massage : 100 baht

Tips : Jika ingin naik tuk-tuk, berjalanlah agak jauh dari obyek wisata agar bisa memperoleh harga tawar separuh dari tuk-tuk didepan obyek wisata. 

Day 2 - Museum Madame Tussauds - Mah Boon Krong


Malam pertama sampai di Bangkok, kami sempatkan browsing beberapa informasi mengenai kota Bangkok dan destinasi kami selama disana. Informasi yang kami dapat beragam, mulai dari lokasi, moda transportasi, biaya, serta lokasi food center. *Terimakasih untuk para traveller blogger yang sudah menyediakan informasi yang akurat*

Hari kedua kami memutuskan untuk mengunjungi Madame Tussauds sebagai destinasi pertama kami di Bangkok. 
Berdasarkan informasi yang kami dapat dari beberapa blog traveller yang pernah ke Bangkok, ternyata museum lilin Madame Tussauds ini berada satu komplek dengan beberapa mall termasuk MBK (Mah Boon Krong) yang konon sangat terkenal diantara wisatawan (belanja) dari Indonesia karena harga disana sangat murah. Lokasi persisnya museum lilin ini ada di Siam Discovery yang bersebelahan dengan Siam Center.

Untuk menuju kesana, dari Khaosan Road ada beberapa alternatif moda transportasi :
1. Taxi (Kami tidak tahu harga argo/tawarnya berapa)
2. Tuk-tuk (bisa ditawar sampai 100 baht sekali jalan)
3. Bus Umum (ini adalah moda transportasi favorit kami selama disana)

Sesuai kesepakatan, kami akan menggunakan bus umum untuk menuju ke Siam Center. Karena belum mengenal lokasi dengan baik, kami selalu membawa peta kemanapun kami pergi.
Berdasarkan informasi dari blog Tom-kuu, kami pun mencari halte di daerah dekat Khaosan Road. Lalu, berjalanlah kami menuju ke Ratchadamnoen Klang Road yang berada tidak jauh dari Khaosan Road. Agak gambling juga sebenarnya, karena kami tidak tahu jalan yang dimaksud Tom-kuu sebelah mana.

Saya pribadi sangat menyukai trotoar yang ada di sepanjang Ratchadamnoen Klang road ini. Selain lebar, juga teduh dan terdapat beberapa kursi taman yang bisa digunakan untuk berisitirahat sejenak sehingga sangat nyaman dilalui oleh pedestrian seperti kami. Jadi jangan heran kalau selama disana kami kuat berjalan (kaki) jauh hehhehee ^_^

Halte yang dimaksud Tom-kuu belum berhasil kami temukan. Seperti yang dinasehatkan pak Farkhan sebelum saya berangkat, akhirnya saya memutuskan untuk bertanya kepada orang Thailand yang berpakaian hitam putih (mereka anak sekolahan, jadi paling tidak akan paham jika diajak berbicara dalam bahasa inggris) ^_^ 
Ternyata ..... si adek (memakai baju hitam putih di foto atas) yang mirip bintang film taiwan ini sangat ramah dan baik hati, selain memberikan informasi nomor bus yang bisa kami naiki, juga mengantarkan kami menuju bus No. 79 yang berhenti sejenak di "halte" tersebut. Saya & mb Endah pun terharu dengan kebaikan dan keramahan si adek tadi ..~_~..
Kop khun kaa adek ganteng ^_^ Siapa bilang orang Thai cuek2? Mereka sangat ramah kok !

 Bus umum di Bangkok sangat berbeda dengan kopaja disini karena tidak boleh ada penumpang yang berdiri (kecuali mau turun) apalagi berdesak-desakan. Selama disana, berdasarkan apa yang kami amati *tsaaahh*, rata-rata pramugari bus adalah wanita. Kenapa kami menyebutnya pramugari? karena mereka selalu berseragam rapi (rok, kemeja, & jas) serta membawa kincringan tanda kami harus membayar. 

Akhirnya kami sampai di Siam Center pukul 09.00. Agak kepagian memang, karena Siam Discovery dan sekitarnya baru dibuka pukul 10.00. Tapi, karena kepagian akhirnya kami bisa mengamati kondisi sekitar Siam Center termasuk infrastruktur & orang-orangnya *Kebiasaan anak PWK*.

 
Selama menunggu Siam Discovery buka, kami tidak harus ngemper (aka duduk-duduk manis di trotoar) karena di Siam Center sudah disediakan tempat duduk yang didesain melingkar dengan warna bervariasi. Sangat fotogenic untuk dijadikan obyek foto, apalagi didepan kami (arah jam 12) duduk dua backpacker keren yang juga akan mengunjungi Madame Tussauds, hihihihi.


 Bersamaan dengan kami, ada serombongan murid & guru yang sepertinya dari sekolah internasional dsana. Iseng-iseng menebak kalau mereka juga akan mengunjungi Madame Tussauds, dan tebakan saya benar *yattaaaaa* Karena warna baju kami hampir senada, sepertinya saya cocok jadi bagian dari mereka hihihihihiii. 




Madame Tussauds sendiri merupakan museum lilin terkenal dari London yang memiliki cabang di beberapa kota besar lainnya, didirikan oleh pematung lilin Marie Tussauds. 
untuk sejarah lengkapnya dapat dibaca di http://id.wikipedia.org/wiki/Madame_Tussauds ^_^


 Museum Madame Tussauds yang kami kunjungi adalah museum lilin yang didalamnya terdapat patung berbagai tokoh dunia, mulai tokoh sejarah, pemimpin dunia, artis & bintang televisi, serta atlet olahraga terkenal. Berkunjung kesana sukses membangkitkan kenarsisan kami. Terbukti sudah berapa puluh foto yang kami ambil selama disana, hihihihi ...




Kami masuk ke Madame Tussauds bersamaan dengan para murid (saya) tadi. Mereka sangat ramai dan hebooohhh ^_^ Akhirnya saya dan mb Endah memutuskan untuk men-skip bagian awal dulu dan langsung menuju ke bagian museum yang masih sepi dengan alasan biar bisa berfoto dengan tenang tentunya :p 
Selesai di bagian akhir, kemudian kami memutar untuk mengunjungi bagian awal museum. Kami pun melewati rombongan siswa tadi. Dan saya berhasil mencuri gambar berikut :
Pak guru ini gahul sekaliiiiii ^_^ Selain mengatur dan menjaga muridnya, beliau ini juga mau seru2an bareng si murid. Terbukti di bagian permainan ini, beliau gak jaim dan mau bermain gila2an bareng si murid. 
Sensei, aishiteru lah pokoknyaaaaaa *halah*


 Selesai berkeliling & berfoto2 di Madame Tussauds, kami melanjutkan perjalanan ke Mah Boon Krong (MBK). Untuk ke MBK, kami harus melalui skywalk karena kendaraan dibawah sana sangat padat.
Saya yang orang desa tentunya kesenengan menyeberang lewat skywalk, karena di desa saya tidak ada :p




 Kami mampir ke MBK bukan untuk berbelanja, hanya untuk mencari makan siang (halal) dan sholat Dhuhur disana. Disinilah cita-cita saya untuk mencicipi Tom Yum terwujud. Setelah berkeliling akhirnya kami menuju ke lantai 5 dan (salah) masuk ke Food Center di lantai ini. Harga yang ditawarkan bervaiasi tiap konternya. Akhirnya (demi alasan penghematan) kami memesan seporsi Tom Yum dan dua porsi nasi putih. Ketika pesanan diantarkan ke meja, kami kaget karena di nampan tersebut ada dua porsi tom yum dan dua porsi nasi. Akhirnya saya kembali ke bapak (india) supervisor konter tsbt dan memastikan bahwa kami hanya memesan 1 porsi tomyum. Ternyata bapak tersebut bilang bahwa pesanan kami dibagi menjadi 2 mangkok dengan porsi lebih kecil *Terharruuuuu*
Siapa bilang berurusan dengan orang India tidak menyenangkan? Nyatanya kami sangat dibantu oleh mereka :P
Untuk yang di MBK, pilihan makanan halal selain di lantai 5, ada juga di lantai 6 yang harganya lebih terjangkau.

Tapi ada kejadian yang agak kurang mengenakkan disini. Di meja sebelah kami ada mas2 yang iseng panggil2 "Dek-dek, bla bla bllaaaaa" saya kurang jelas dia ngomong apa. Saya mikirnya sih salah denger saja. Etapi ternyata, ketika saya memastikan pesanan ke bapak India tadi, si mas2 itu memanggil lagi. Dia bilang "Dek, mau dibayarin gak?" >.
Wajah sih mirip Marcell, tapi klo SKSD spt serem juga ...

Seperti mall2 di Indonesia pada umumnya, lokasi musholla ada di parkiran, tepatnya di lantai 6.
Kalau teman-teman ada yang kesini, bisa bertanya letaknya pray room atau bahasa Thai-nya Hong Lamard. Nanti pasti dikasih tahu kok ^_* 

Selesai semua urusan di MBK, akhirnya kami memutuskan langsung kembali ke Khaosan Road. Kami memilih naik bus umum lagi dan bertanya ke ibu2 petugas disana, kalau menuju ke Khaosan Road menggunakan bus nomor berapa. 
Berhubungan pelafalan ibu tersebut sangat asing di telinga saya, jadi ketika beliau menyebut angka saya tetap tidak paham. Akhirnya beliau menuliskan angka bus yang bisa kami naiki.
Dan dari MBK kami naik bus No. 47 menuju ke Khaosan Road. 

Setelah berisitrahat sejenak di hotel, kami kembali berjalan-jelan di sepanjang Khaosan Road sekalian mencari makan malam.


Untuk rincian pengeluaran hari ke-2 sebagai berikut:
Sarapan : 39 baht
Bus 79 : 13 baht
Madame Tussauds : 800 baht
Print foto : 100 baht
Makan siang : 89 baht
Bus 47 : 6 baht
makan malam : 25 baht
buah naga : 20 baht
kaos kaki : 40 baht

NB: selama disana, kami selalu membawa minum sendiri, untuk mengirit biaya makan ^_*

Day 1 Tuban - Bangkok


Beberapa hari sebelum keberangkatan, kami sempat melakukan briefing di Jazzy untuk memastikan apa saja yang dibawa serta persiapan-persiapannya mulai dari mengeprint peta Rika Inn dan juga budget serta menentukan jam keberangkatan.

Penerbangan dari Juanda ke Bangkok hanya ada satu kali sehari. Berdasarkan keterangan yang tertera di tiket, kami akan terbang pukul 15.25 WIB. Karena itu, kami sepakat untuk berangkat jam 9 pagi dari Tuban dan ketemu langsung di alun-alun.

Berhubung urusan tukar menukar uang rupiah ke dollar belum beres dan mba Endah juga mau mengisi pulsa, akhirnya kami baru berangkat pukul 10.00 WIB dengan bis dari arah Semarang - Surabaya.

Kami sampai di Surabaya pukul 12.30 WIB dan mampir ke Bungurasi sebentar kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara dengan bus DAMRI. Sesampai di bandara, kami mencari musholla dan kemudian makan siang di bandara.

Ini adalah penerbangan pertama saya, jadi setiap mengurus dokumen pasti mengekor mba Endah kemana-mana, hehhehhee ... 

Dan ketika beredar di bandara, kami bertemu dengan para atlet ini.
Membaca spanduk yang dibawa, ternyata mereka juga akan terbang ke Bangkok. Berhubung tidak bisa membaca dengan jelas isi spanduknya, akhirnya tidak tahu mereka itu atlet apa. Penasaran, karena mereka dalam grup itu penampilannya modis2 & trendi2, akhirnya saya bilang ke mba Endah : "Siapa tahu nanti pas di pesawat bisa duduk sebelahan sama mereka" ... Eh ternyata iya, pas di pesawat kami duduk bersebelahan dengan salah satu dari mereka. 
Beruntung sekali Brilly aka Indra bisa duduk sebelahan sama kami di pesawat *Klo indra baca tulisan ini bakalan di demo gak ya? hihihihiiii*

Penerbangan Juanda - Swarnabhumi memakan waktu kurang lebih 3 jam dan alhamdulillah penerbangan berjalan lancar tanpa gangguan cuaca. 

Sepanjang perjalanan isenglah saya mengajak ngobrol Indra, bertanya ke Thailand dalam rangka kompetisi apa. Ternyata mereka itu cheerleader!! Pantesaaaann kok penampilan fisiknya hampir sama, modis & trendi.

Kami mendarat di Swarnabhumi pukul 19.25 WIB (tidak ada perbedaan waktu antara WIB dan Bangkok).
Setelah mengurus administrasi dan berfoto2 nista di sepanjang Swarnabhumi, akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke Khaosan Road.

Ingin hati sih menggunakan Airport Rail Link City Line yang dilanjut dengan taxi ke Khaosan Road, namun batal. Selain kondisi fisik kami yang sudah terlanjur lelah karena berangkat pagi dari Tuban, juga karena ini pertama kalinya kami menginjakkan kaki ke Kota Bangkok. Agak mikir juga kalo malam2 dengan kondisi lelah, barang bawaan yang beraaatt harus nyasar. Akhirnya kami memutuskan menggunakan taxi meuju ke Khaosan Road dengan membayar 450 baht. *criiiing*

Begitu sampai di Khaosan Road, kami tidak langsung menemukan lokasi penginapan. Bertanya kesana kemari, berjalan kesana kemari sampai memutar ke Rambutti Road, akhirnya dengan bantuan beberapa orang Thailand disana kami bisa menemukan Rika Inn. Khop khun kaa ^_^

Ternyata Rika Inn berada di ujung jalan tempat kami turun tadi. Sampai  di Rika Inn pukul 21.30 WIB, langsung membereskan pembayaran serta mengambil kunci kamar. Proses ini berjalan cepat karena kami sudah mem-booking jauh hari dari Indonesia. 
Untuk menginap selama 4 malam disana kami membayar 5000 baht (yang ditanggung berdua) dan juga membayar deposit sebanyak 1000 baht yang akan dikembalikan ketika kami check out. *criiing*

Setelah membereskan barang bawaan serta mandi dan dandan *eh?*, kami memutuskan untuk berjalan - jalan di sepanjang Khaosan Road sekalian mencari makan malam. Bingung mau membeli makan malam apa, akhirnya kami memutuskan untuk membeli Pad Thai + telur (yang inshaallah halal). 
Pad Thai adalah campuran dari 3 macam mie yang dioseng dengan taoge & orak arik telur. Untuk seprosinya kami membayar 30 baht. *criiiing*

Berhubung penjual Pad Thai tidak menyediakan kursi, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di lobi hotel sekalian online ^_^ Dan saya menulis status pertama saya disana *halah*



Seperti biasa, jika sudah online rasanya jadi lupa waktu *hohohooo*
Setelah browsing, mengecek timeline, mengecek email, dan chatting, akhirnya saya kembali ke kamar pukul 00.10. Dan disempatkan briefing sebentar dengan mb Endah untuk memutuskan rute esok hari.





Rincian pengeluaran untuk hari pertama:

Bus Tuban - Sby : Rp   15.000,-
Bus Damri - Bandara : Rp   15.000,-
Makan Siang  : Rp   40.000,-
Airport Tax : Rp 150.000,-
Taxi  Khaosan Road : Baht 225 (450 baht dibagi berdua)
Penginapan : Baht 2.500
Deposit : Baht    500
Pad Thai : Baht      30
Air Minum 7-11 : Baht      10

Total pengeluaran hari pertama: Rp 220.000,- dan 2.540 baht

Menikmati Khaosan Road - Bangkok


Khaosan road adalah tempat yang kami pilih untuk menginap selama mbolang di Bangkok. Konon tempat ini sangat terkenal diantara para backpacker dunia karena terdapat berbagai budget hotel, hiburan malam, kios & tempat makan, serta mudahnya akses ke beberapa obyek wisata di Bangkok.

Untuk mencapai Khaosan Road dari Bandara Swarnabhumi, terdapat 3 pilihan : 
1. Bus Airport (AE2) -> Jurusan Banglamphu. Biaya untuk AE2 ini sekitar 150 baht/orang
2. Taxi -> Langsung menuju Khaosan Road. Biaya untuk taxi ini berkisar 450 - 500 baht
3. Airport Rail Link City Line & turun di Phaya Thai Station kemudian dilanjutkan dengan Taxi menuju ke Khaosan Road. Untuk rincian biayanya : Airport Rail Link sekitar 45 baht/orang dan taxi sekitar 80 baht.

Berikut ini, denah lokasi Khaosan Road dan kawasan serta atraksi di sekitarnya ^_^ (Bahasanya PeWeKa banget ya?)

Kami menginap di Rika Inn (No. 2) yang terdapat dibagian ujung Khaosan Road, dekat dengan Burger King. Karena berada di ujung khaosan, kami tidak terlalu terganggu oleh hingar bingar kehidupan malam disekitarnya. 
Proses booking hotel, bisa dilakukan sejak jauh hari. Untuk biayanya, kami menganggarkan dana khusus untuk penginapan karena menginginkan tempat istirahat yang nyaman setelah seharian mbolang di Bangkok ^_^
Walaupun kami mbolang dengan dana terbatas alias budget travelling, tapi sepertinya kami belum cocok disebut backpacker, hihihii. Kenapa? karena setiap berangkat mbolang, tidak pernah lupa memakai perlengkapan tempur (maskara, eyeliner, eye shadow, lipstik, dll) dan baju kami pun selalu rapi hehhehee.
Budget boleh ala turis ransel, tapi dandanan teteup ala turis koper *hhaaiiyyaaahh*

Kembali ke Khaosan Road.
Ada apa saja dsini? Berikut hal-hal yang bisa di jumpai di Khaosan Road dan sekitarnya :
 1. Kios dan Cafe
 Di sepanjang Khaosan Road banyak dijumpai PKL, cafe, serta tempat untuk membuat tato. Jika ingin berbelanja pakaian, makanan, tas, aksesoris, serta kartu nama, bisa. Mau kongkow2 sambil ngobrol, bisa ^_^
(Gambar lengkapnya ada di "Album Rumput Tetangga")



 2. Salon Massage & Spa
Ada banyak pilihan untuk mencoba berbagai jenis pijat disini. Ada Thai Massage, Foot Massage, dan juga Fish Massage. Harganya pun bervariasi. Dan kami memilih Charlie Salon Massage & Spa karena mereka menawarkan tarif yang lebih murah serta ruangan yang nyaman. 




 3. Penjual Makanan Keliling
 Jika bingung menentukan menu makan malam, kita bisa berjalan di sepanjang Khaosan Road. Disini akan banyak kita jumpai berbagai pedagang makanan, mulai dari penjual Pad Thai (semacam mie yang digoreng dengan taoge), sticky rice (nasi ketan,santan,mangga), Pancake (bentuknya lebih seperti martabak), coconut pie, aneka sate (udang, sosis, dan babi), dan juga serangga goreng *wew*. Untuk harga makanannya bervariasi mulai dari 20 - 30 baht.


4. Agen Perjalanan & Money Changer
Jangan khawatir kehabisan baht asal masih punya US $ karena disepanjang kawasan ini terdapat banyak money changer yang menawarkan harga lebih baik daripada ketika kita menukar di bandara. Untuk yang berencana ke Pattaya dan beberapa tempat wisata lainnya tetapi ingin praktis, bisa menggunakan jasa agen-agen perjalanan wisata disini. Untuk harga, sangat kompetitif. Jadi kita bisa membandingkan harga antar agen ^_^


 5. Kantor Polisi
 Untuk keamanan, jangan khawatir. Karena diujung khaosan Road yang bersebelahan dengan Chakraphong Road terdapat kantor polisi. Ketika kami kesana, kantor polisinya sedang di renovasi ^_^






6. Tempat Persembahan
Di kawasan ini terdapat berbagai etnis dengan keberagaman budaya dan agama. Namun ada hal menarik yang bisa dilihat disini, yaitu tempat persembahan, yang bisa kita jumpai di kantor polisi, money changer, dan juga hotel - hotel.


Satu hal yang saya kurang suka dari Khaosan Road dan kawasan sekitarnya => Kabel listrik yang semrawut >.
Selain mengganggu pemandangan, juga rasanya kurang aman bagi pejalan kaki seperti saya karena kabel - kabel tersebut terkadang menjuntai sampai ke bawah. (gambar bisa dilihat di Album Rumput Tetangga)


Kurang afdol jika kesini tetapi tidak melihat kawasan - kawasan di sekitarnya ^_^

 Disebelah barat daya (semoga tidak salah orientasi mata angin), terdapat Soi Ram Butti (No. 3) yang juga merupakan kawasan backpacker, hanya saja wilayah ini lebih tenang dan lebih rapi daripada Khaosan Road. 
Selain budget hotel, disini juga terdapat cafe, PKL, plaza (eh? ada plaza didalam gang?), dan juga money changer.




Perjalanan dilanjutkan menuju ke bagian utara Soi Ranbutti (sepanjang jalan Chakrapong), kita bisa menjumpai perkampungan muslim dan masjid (No. 4). Sebenarnya tidak semua warganya beragama Islam karena sudah ada percampuran, hanya saja kita akan dengan mudah menjumpai saudara seagama kita dsini dan mengucapkan Assalamu'alaikum ^_^


Jika ingin bersantai dan melihat yang hijau-hijau, kita bisa mengunjungi Sanam Luang Park yang tidak jauh dari Khaosan Road. Cukup berjalan kaki kurang lebih 10 - 20 menit (tergantung kecepatan kaki, hehehee)
Dari taman ini kita bisa melihat Grand Pallace dari kejauhan, taman yang tertata dengan apik, serta arus lalu lintas di sepanjang sisi taman (Memangnya sedang survey transport mba? sempet2nya merhatiin kendaraan yang lewat? hehehe)


Jadi, jika kalian ke Bangkok, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Khaosan Road dan sekitarnya yaaaa ^_^