Selasa, 11 Oktober 2011

Oleh-oleh dari Kediri


Hari Rabu lalu, saya diminta mengantar Dewi ke Pare - Kediri untuk mendaftar Holiday Course disana. Karena ajakan ke Pare diberitahukan beberapa hari sebelumnya, jadi saya masih bisa mengatur waktu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan agar tidak mengganggu perjalanan kami ke Pare. (Thanx Ollie, karena sudah menginspirasi melalui tulisan "have a goal, set a deadline to achieve it, commit to it and finish it" akhirnya bisa memenuhi target dan tetap bisa berjalan-jalan) *hugs*

Sebelumnya sih saya belum pernah ke Pare (kecuali numpang lewat kalau baru dari Kediri), jadi semalam sebelum keberangkatan saya mencari semua info yang diperlukan, mulai dari rute, jenis angkutan umum, sampai dengan perkiraan biaya melalui mbah gugel yang serba lengkap itu ^_^ Dan ternyata, info yang saya dapat dan catet itu sangat valid loh sampai biaya naik becak pun sama *setorjempol*

Ketika baru turun dari bus dan naik becak menuju ke kampung inggris, saya masih biasa-biasa saja karena (menurut saya) situasi di sepanjang jalan tersebut sangat biasa dijumpai di daerah lain. Namun begitu masuk ke kampung Inggris, saya mulai takjub dan "nggumun". Banyak hal-hal baru dan unik yang bisa ditemukan disini. Bukan hanya pemanfaatan bangunannya, bisnis2nya, namun juga kebiasaan orang-orang yang tinggal disana.

Disepanjang jalan menuju tempat kursus Dewi di Jl. Anyelir, banyak anak muda menggowes sepeda, dan rata-rata sepeda yang dipakai adalah sepeda lama (penghalusan dari kata butut, hehhehe). Saya pun penasaran mengingat sebagian besar anak muda yang disini adalah pendatang dari luar daerah, trus mereka dapet sepedanya darimana? ... Akhirnya bertemulah saya dengan plang nama ini yang akhirnya menjawab pertanyaan tersebut ^_^

Nah kalau mau melihat cewe-cewe cakep & modis tapi teteup mau menggowes sepeda mini model lama, disini tempatnya

Kalau mau liat mas-mas menggowes sepeda, disini banyaaaakkk ^_*

Dan kalau mau melihat anak muda (yang gaul) tapi berpatjaran pake sepeda onthel, disini juga ada, hehehee

Tidak susah menemukan tempat kursus Dewi diantara sekian banyak tempat kursus disana karena lokasi Rhima Course berada tepat di depan BEC dan alhamdulillah dapat kos juga di sekitar daerah sana.

Setelah berputar-putar disana kurang lebih 3 jam, akhirnya saya dan Dewi memutuskan untuk pulang ke Tuban, namun mengambil jalur jalan yang memutar karena ingin melihat-lihat sekalian memulai sesi foto-foto ^_*
Ditengah jalan menuju perhentian bis, kami diinterview oleh 2 orang murid dari lembaga kursus yang lain. Ceritanya mereka sedang mengasah speaking dan melatih keberanian mengajak berbicara orang asing dengan bahasa inggris. Dan saya yang jadi responden gelagapan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka karena you know lah, bahasa inggris saya termasuk kategori little-little  hehehhee tapi alhamdulillah semua pertanyaan berhasil saya jawab dengan Bahasa Inggris *Yatttaaaaa*. Sebenarnya selain saya yang kaget karena tiba-tiba dihadang, mereka juga kaget karena tiba-tiba ditodong untuk berfoto bersama, hahahaha. 
Ini dia foto kami sebelum melakukan sesi wawancara ^_^

Setelah selesai menandatangi formulir wawancara, kami tertawa sepanjang jalan menuju pulang mengingat wawancara serta kelucuan kami dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Dan sampailah kami disalah satu distro di dalam kampung Inggris ^_*
Berhubung kata-kata di plang tokonya menggunakan bahasa inggris, tertariklah saya & dewi berfoto-foto disini, dan mengklaim kalau itu (calon) distro saya wkakakakkakaaa *Namanya juga jalan-jalan sambil nenteng-nenteng impian, siapa tahu jadi kenyataan*

  

Oiya, untuk Keterangan dan Rincian biaya menuju kesana (Siapa tahu ada yang benar-benar mau kesana), berikut rinciannya:
Kami berangkat dari Tuban menggunakan bus (kecil) jurusan Jombang. Dari terminal Jombang, saya oper bus arah Tulung Agung yang melewati Pare dan turun di perempatan Tulung Rejo (Atau kita bisa bilang ke kondekturnya "turun di Kampung Bahasa"). Untuk menuju ke kampung Inggris, kita bisa menggunakan becak yang tarifnya bervariasi mulai dari 5 ribu sampai 15 ribu. Berhubung lokasi kursusnya Dewi agak masuk ke dalam dan lumayan jauh, akhirnya kami dikenakan biaya 15 ribu oleh bapak becaknya. Kebetulan lokasi kursus Dewi dekat dengan jalur balik ke arah Jombang, maka kami hanya perlu berjalan kaki menuju tempat perhentian bus ^_^

Rincian Biaya  :
Bus (berangkat) Tuban - Jombang : Rp. 13.000 / orang
Bus (berangkat) Jombang - Pare : Rp.   5.000/ orang
Becak (dr Tulung Rejo ke Anyelir) : Rp. 15.000
Bus (pulang) Pare - Jombang : Rp.   5.000 / orang
Bus (pulang) Jombang - Tuban : Rp. 13.000 / orang
Total biaya P - P Tuban-Jombang : Rp. 43.500 / orang *Catatan biaya becaknya dibagi berdua*
(Untuk makan tidak dicantumkan karena harga tergantung tempat dan jenis makanan yang dibeli)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar